Beberapa minggu lalu, CEO Mercedes secara terbuka membagikan pandangannya tentang arah industri otomotif Eropa. Ola Källenius menyatakan bahwa Uni Eropa perlu melakukan “pemeriksaan realitas” agar tidak terburu-buru menuju tembok yang berpotensi hancur, terkait dengan larangan penjualan mobil baru bermesin pembakaran yang akan berlaku pada tahun 2035. Selain sebagai CEO Mercedes, Källenius juga memimpin Asosiasi Produsen Mobil Eropa (ACEA) dan mendorong Presiden Komisi Eropa untuk mengambil langkah terkait larangan yang kontroversial tersebut. Dalam surat terbuka kepada Ursula von der Leyen, Källenius menyampaikan bahwa situasi dunia telah berubah secara signifikan sejak larangan itu pertama kali diumumkan. Poin utama yang dia sampaikan adalah bahwa dekarbonisasi tidak hanya bisa dicapai dengan larangan mobil bensin baru pada pertengahan dekade mendatang.
Menanggapi target CO2 yang ketat untuk mobil dan van, Källenius dan Matthias Zink, Presiden Asosiasi Pemasok Otomotif Eropa (CLEPA), merasa bahwa mencapai emisi 0 g/km dalam waktu sembilan tahun adalah tidak realistis. Namun, Källenius melihat adanya peluang untuk mengkaji kembali arah yang diambil oleh Uni Eropa dalam konferensi bulan depan. Meskipun ACEA berkomitmen untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2050, anggota asosiasi ini menilai larangan mesin pembakaran pada tahun 2035 terlalu dini. Sementara itu, Kia justru berpendapat sebaliknya, bahwa mencabut larangan tersebut akan menimbulkan kerugian finansial yang besar.
Uni Eropa yang tetap melanjutkan larangan untuk tahun 2035 memberikan beberapa kelonggaran kepada produsen mobil. Target CO2 yang berlaku mulai tahun 2025 tidak perlu dicapai secara ketat pada akhir tahun ini, melainkan produsen dapat menghitung rata-rata emisi selama periode 2025-2027. Namun, target baru untuk periode 2025-2029 menuntut penurunan 15 persen dibandingkan dengan periode sebelumnya. Dari tahun 2030 hingga 2034, target emisi turun lebih jauh menjadi 49,5 g/km, dan mulai tahun 2035, targetnya menjadi 0 g/km.
Ketentuan yang semakin ketat ini menghadirkan tantangan besar bagi industri otomotif secara global. Stellantis, salah satu anggota ACEA, mengungkapkan bahwa kepatuhan terhadap regulasi ini menghabiskan waktu teknisi sebesar 25 persen tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan. Dan implikasi dari larangan pada tahun 2035 ini tidak hanya berdampak pada 27 negara anggota UE, tetapi juga secara global dalam membentuk kembali strategi penjualan mobil bertenaga gas. Dimensi ekonomi dan dampak pada skalabilitas bisnis akan menjadi pertimbangan krusial dalam menghadapi perkembangan ini.





