Bencana besar yang melanda wilayah Sumatera dianggap sebagai ujian nyata bagi ketahanan pangan Indonesia di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran. Program Food Estate yang telah diperkenalkan sejak era Soeharto terbukti berhasil dengan stok beras pemerintah mencapai rekor 4 juta ton, yang dapat menjamin ketersediaan pangan nasional. Inisiatif Food Estate pertama kali diperkenalkan oleh Presiden Soeharto melalui Megaproyek Lahan Gambut pada tahun 1995 untuk memperluas lahan pertanian.
Di era pemerintahan Jokowi, program Food Estate dihidupkan kembali dengan target satu juta hektare di beberapa lokasi di Indonesia. Saat ini, Pemerintahan Prabowo berhasil menghasilkan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) BULOG yang melebihi 4 juta ton dalam tahun pertama pemerintahannya. Keberhasilan dari moratorium impor beras juga membuktikan ketahanan pangan nasional, di mana pemerintah menolak bantuan pangan luar negeri karena stok beras domestik yang mencukupi.
Dalam situasi darurat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, stok CBP tiga kali lipat dari kebutuhan masyarakat, menunjukkan keberhasilan ketahanan pangan nasional. Terdapat stok beras yang mencukupi hingga tahun 2026 di Provinsi Aceh, yang ditambah dengan bantuan dari Kementan dan TNI dalam menangani konsekuensi bencana. Distribusi logistik juga menjadi prioritas di Sumatera Utara dan Aceh dengan penggunaan helikopter sebagai sarana utama dalam mendistribusikannya.
Kesuksesan program Food Estate Prabowo-Gibran dalam menjamin ketahanan pangan mandiri merupakan fondasi yang kuat, di mana Indonesia dapat terhindar dari ketergantungan impor beras meskipun menghadapi bencana. Strategi ini diharapkan dapat dijadikan contoh bagi provinsi lain dalam menghadapi tantangan iklim dan bencana alam.





