Wahdi Azmi: Konservasi Harus Menjadi Kebutuhan

by -69 Views

Bila membicarakan konservasi di Indonesia, sering kali fokus utama tertuju pada hutan dan satwa liar. Umumnya diskusi berkisar pada penurunan habitat, spesies yang terdesak, ataupun konflik antara manusia dan satwa yang semakin sering terjadi. Namun, di balik semua persoalan itu, ada satu aspek yang kerap terlupakan: peran manusia sebagai bagian dari ekosistem itu sendiri.

Wahdi Azmi, seorang dokter hewan sekaligus pakar konservasi yang lama berkecimpung menghadapi konflik manusia dan gajah di Sumatera, menyoroti pentingnya melibatkan manusia dalam strategi pelestarian lingkungan. Baginya, pola pikir yang hanya berfokus pada penyelamatan satwa tanpa manfaat nyata untuk masyarakat di sekitar kawasan konservasi adalah titik lemah perjuangan tersebut. Tak sedikit kasus konflik manusia-gajah yang dipicu oleh lanskap yang berubah tanpa perencanaan sosial dan ekonomi yang matang.

Ketika hutan dialihfungsikan menjadi kebun atau pemukiman, satwa kehilangan ruang geraknya. Pada saat yang sama, warga sekitar justru semakin terpacu menekan alam demi bertahan hidup. Tatkala pertemuan manusia dan satwa menjadi realitas sehari-hari, perbedaan kepentingan menciptakan konflik yang sulit dihindari. Wahdi menegaskan bahwa reaksi manusia terhadap konflik jauh lebih penting dibanding sekadar mengidentifikasi penyebab awalnya.

Kebijakan konservasi di Indonesia umumnya bersandar pada pendekatan proteksi. Wilayah-wilayah tertentu dibatasi untuk menjaga keutuhan ekosistem. Namun, sesering apapun peraturan dibuat, bila masyarakat sekitar tidak memperoleh faedah nyata, hasilnya tetap kontraproduktif. Bagi banyak warga, konservasi dipandang sebagai beban yang membatasi akses, peluang ekonomi, bahkan meningkatkan risiko interaksi negatif dengan satwa liar.

Sebenarnya, manusia dan alam tidak dapat dipisahkan. Wahdi menekankan perlunya integrasi antara upaya konservasi, ekonomi lokal, dan proses edukasi. Ketiga unsur ini harus berjalan beriringan, bukan berdiri sendiri-sendiri. Dengan demikian, pelestarian alam dapat memperoleh dukungan masyarakat dan bukan hanya bergantung pada intervensi dari luar.

Contoh nyata integrasi tersebut dapat dilihat di kawasan Mega Mendung, Bogor, di mana tekanan terhadap lahan semakin tinggi akibat pembangunan. Di Arista Montana, bersama Yayasan Paseban yang dipimpin Andy Utama, pendekatan konservasi berbasis masyarakat mulai diterapkan. Lingkungan tidak lagi dipandang sebagai objek yang perlu dijaga dari manusia, melainkan sebagai ekosistem yang menjadi fondasi aktivitas ekonomi dan sosial.

Salah satu upaya yang dilakukan di sana adalah pengembangan pertanian organik komunitas, di mana petani setempat diberdayakan mengelola lahan secara berkelanjutan. Dengan adanya pelatihan, mereka memahami teknik pertanian yang tidak merusak tanah maupun air. Pelestarian lingkungan pun menjadi kebutuhan ekonomi sehari-hari, bukan hanya slogan.

Yayasan Paseban memainkan peran penting dalam proses edukasi. Berbagai program pelatihan tentang konservasi dan pertanian lestari diberikan kepada masyarakat. Anak-anak muda juga dikenalkan pada pentingnya menjaga alam sebagai bagian dari warisan bersama. Pendidikan tidak berhenti di tataran teori, tapi berlanjut pada penerapan praktis yang mengubah kebiasaan dan pola pikir masyarakat setempat.

Hasilnya, konservasi tidak lagi diposisikan sebagai program dari luar yang membebani, melainkan menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari warga. Mereka tumbuh sebagai pelaku utama, bukan sekadar objek atau penerima kebijakan. Model seperti inilah yang memberi harapan pada masa depan pelestarian lingkungan di Indonesia.

Jika kita bandingkan dengan pengalaman Wahdi Azmi di Sumatera, permasalahan dasarnya serupa: kegagalan integrasi antara manusia, satwa, dan lanskap menimbulkan konflik atau degradasi lingkungan. Sementara di Mega Mendung, berkat integrasi yang diterapkan, potensi gesekan dapat diminimalisir, dan konservasi menjadi pondasi ekonomi yang lestari.

Inti persoalan sesungguhnya adalah kekuatan kapasitas lokal. Gagalnya upaya pelestarian alam sering kali disebabkan karena masyarakat tidak mendapat peran dan manfaat. Ketika mereka diberdayakan, diajak terlibat, serta diberikan peluang ekonomi, konservasi berubah dari sekadar jargon menjadi solusi yang benar-benar hidup dan tumbuh.

Pelajaran inilah yang mengemuka dari praktik di lapangan. Dalam menghadapi tekanan urbanisasi dan perubahan bentang alam, Indonesia membutuhkan pendekatan yang tidak hanya meluaskan wilayah konservasi, tetapi juga mengintegrasikan pelestarian dengan kebutuhan serta kehidupan masyarakat. Konservasi harus diartikan sebagai sistem yang menyambungkan lingkungan, ekonomi, dan pengetahuan.

Tanpa keterkaitan itu, pelestarian akan terus bertahan di posisi defensif dan rawan tergerus pembangunan. Sebaliknya, bila masyarakat merasakan manfaat konkrit, konservasi bisa menjadi dasar pembangunan yang berkelanjutan. Seperti diingatkan oleh Wahdi, pertanyaan utama kini bukan hanya soal bagaimana mempertahankan alam, melainkan apakah kita semua punya alasan cukup kuat untuk turut menjaganya bersama.

Sumber: Wahdi Azmi Sebut Konservasi Harus Memberi Manfaat Bagi Masyarakat
Sumber: Dari Gajah Ke Mega Mendung, Ketika Konservasi Harus Menghidupi