Anak Muda Diajak Lebih Kritis Menyikapi Konflik Internasional

by -92 Views

Belakangan ini, diskusi seputar kemungkinan terjadinya perang dunia semakin marak di berbagai lini, baik di dunia maya maupun antara teman sebaya. Ketidakpastian situasi dunia ini lantas mendorong Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional Indonesia (AIHII) Chapter Jabodetabek untuk menggelar seri perdana IR Youth Talks, sebuah forum yang membedah posisi Indonesia di tengah pertarungan geopolitik global masa kini.

Acara yang diadakan pada 21 April 2026 di Universitas Indonesia ini mengusung semangat keterbukaan, mengajak peserta dari berbagai kampus untuk menggali secara lebih dalam posisi Indonesia menghadapi hiruk-pikuk konstelasi global. Tidak hanya menampilkan pembicara dari kalangan akademisi, forum juga mendatangkan praktisi media seperti Anggy Pasaribu, pendiri Story of Anggy dan lulusan Hubungan Internasional, yang mengajak audiens merefleksikan dasar kekhawatiran akan pecahnya perang dunia.

Alih-alih menakut-nakuti atau memberi jawaban mutlak, Anggy mengajak seluruh peserta IR Youth Talks untuk bersikap kritis atas berita dan narasi yang berkembang seputar konflik global. Ia menekankan pentingnya mengedepankan pemahaman yang jernih dibanding hanyut dalam sensasi atau prediksi yang belum tentu benar.

Tanggapan lebih lanjut diberikan oleh Brigjen TNI Aloysius Nugroho Santoso, Direktur Kajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI. Dalam pandangannya, fokus kaum muda sebaiknya ditujukan pada penguatan kesiapan negara menghadapi berbagai kemungkinan krisis, bukan sekadar ikut meramaikan spekulasi soal pecahnya perang dunia. Ia menjelaskan bahwa Lemhannas rutin melakukan pemetaan potensi ancaman global dengan menakar kerentanan nasional menggunakan beragam metode.

Temuan Lemhannas menyampaikan pesan yang jelas, bahwa posisi Indonesia yang strategis di kawasan Indo-Pasifik, ditambah ketergantungan pada impor energi dan pangan, menuntut kesiapan ekstra dari bangsa ini. Kejutan geopolitik dunia bisa berimbas langsung pada ekonomi dan keamanan dalam negeri, membuat setiap krisis global bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Lebih jauh lagi, Aloysius menyoroti nilai strategis Pancasila sebagai pegangan bangsa di tengah tekanan global. Menurutnya, kekuatan negara tidak hanya datang dari segi ekonomi atau militer, melainkan dari kokohnya sistem nilai dan ideologi guna mencegah perpecahan internal. Ia menyebut, “Jika ideologi kita kokoh, ancaman eksternal tak mudah mengoyak persatuan.”

Dari sudut pandang akademik, Broto Wardoyo, Ketua Departemen Ilmu Hubungan Internasional UI, mengajak audiens untuk memahami dinamika global masa kini bukan sekadar sebagai tanda-tanda ke arah perang besar, melainkan sebagai proses perubahan tatanan global. Ia menawarkan perspektif baru bahwa krisis yang kini terjadi—mulai dari konflik, tekanan ekonomi, hingga krisis energi—lebih merefleksikan fase transisi sistem dunia dibanding awan hitam perang dunia.

Broto juga membicarakan faktor-faktor pemicu ketidakpastian internasional, seperti kebijakan luar negeri Amerika Serikat di era Donald Trump yang terkenal tak terduga dan kerap mengguncang stabilitas. Dalam tips menghadapinya, ia memperkenalkan strategi “resilience-based hedging”, yakni upaya menguatkan ketahanan domestik dan memperluas fleksibilitas diplomasi luar negeri untuk menekan dampak krisis global pada Indonesia.

IR Youth Talks diinisiasi sebagai forum kolaborasi enam kampus AIHII Jabodetabek guna memberi ruang dialog lintas generasi antara mahasiswa, dosen, dan pengamat kebijakan publik. Jeanne Francoise, dosen dari President University dan perwakilan AIHII, menegaskan bahwa diskusi ini bertujuan menyejajarkan wacana Hubungan Internasional dengan realitas dan kepentingan generasi muda di berbagai kampus.

Pesan utama dari jalannya diskusi memperlihatkan bahwa isu geopolitik bukan lagi konsumsi eksklusif kalangan analis atau pejabat, melainkan penting ditelaah bersama oleh generasi muda agar mereka siap menghadapi dampak langsung di masa depan.

Menutup sesi, Anggy Pasaribu mengingatkan agar anak muda tetap aktif berdiskusi secara santun. Menurutnya, kritik dan sumbangan pemikiran terhadap kebijakan publik hendaknya disampaikan dalam ruang dialog yang sehat, sehingga solusi dan masukan bisa diterima secara konstruktif.

Anggy menekankan bahwa peran aktif generasi muda dalam membangun pemahaman isu global tak harus selalu disertai retorika keras. Pemahaman mendalam dan sikap siap siaga jauh lebih penting dalam merespons ketidakpastian. “Dunia memang penuh risiko tak terduga, tetapi jawaban kita harus berangkat dari pemikiran matang dan kesiapan kolektif, bukan sekadar rasa cemas,” tegasnya.

Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Soroti Risiko Global Bagi Anak Muda
Sumber: Diskusi Geopolitik Di UI Bahas Isu Perang Dunia, Anak Muda Diminta Siap Hadapi Risiko