Andy Utama Kenalkan Megamendung Century Initiative kepada Publik

by -100 Views

Keberadaan lima spesies primata di Pulau Jawa ternyata masih terjaga di kawasan Megamendung, Bogor, berdasarkan riset dan pengamatan yang dilakukan secara intensif oleh Paseban Foundation. Kawasan ini menjadi satu dari sedikit tempat di mana lima primata khas Jawa bisa ditemukan hidup berdampingan dalam ekosistem yang sama, menurut laporan mereka yang juga didukung bukti kamera jebak dan pengamatan lapangan lainnya.

Dalam acara tahunan Paseban Foundation di Jakarta yang bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional serta dua tahun berdirinya organisasi, hasil penelitian tersebut dipresentasikan kepada khalayak. Pada kesempatan itu, penasihat sekaligus eksekutif yayasan menyoroti tekanan besar yang dihadapi bentang alam Jawa akibat masifnya pertumbuhan populasi manusia dan pembangunan infrastruktur.

“Kami memastikan bahwa semua primata itu bisa bertahan di lanskap Megamendung yang tidak besar ini, sehingga kawasan ini punya nilai konservasi yang sangat tinggi,” kata Wahdi Azmi, Direktur Eksekutif Paseban Foundation. Hal ini sekaligus memperlihatkan betapa pentingnya Megamendung sebagai kantong keanekaragaman hayati yang relatif masih utuh di tengah penurunan populasi satwa liar di bagian lain Java.

Kawasan Megamendung sendiri juga menjadi rumah bagi sejumlah satwa langka lain seperti Elang Jawa dan Macan Tutul, tak ketinggalan berbagai flora serta organisme ekosistem hutan hujan tropis pegunungan yang amat kaya. Secara letak, Megamendung berada dekat Jakarta dan berada dalam kawasan Biosfer Cibodas, sehingga selain strategis juga sangat rentan terganggu aktivitas manusia.

Konsep cagar biosfer memang bertujuan menyatukan pelestarian alam dengan kebutuhan ekonomi sosial masyarakat, dengan pembagian zona inti, zona penyangga dan zona interaksi. Namun, kenyataannya kawasan Megamendung berada di titik terdepan yang mudah terfragmentasi akibat desakan pembangunan dan berbagai aktivitas manusia.

Pak Wiratno, penasehat Paseban Foundation, mengatakan bahwa garis batas administratif kerap berbeda dari proses ekologis yang terjadi di alam. Ia mencontohkan bagaimana air bergerak melintasi banyak wilayah dan satwa tergantung pada habitat serta pakan yang sering kali tidak mengenal batas administratif. Karena itu, ia menegaskan pentingnya peran bersama lintas sektor—mulai dari negara, masyarakat lokal, swasta, akademisi, hingga pegiat konservasi—dalam satu manajemen ekosistem yang menyeluruh.

Paseban Foundation telah menjalankan penanaman ribuan pohon lokal untuk memulihkan struktur hutan Megamendung, menyesuaikan dengan karakter tanah dan kebutuhan spesies endemik setempat. Hingga Agustus 2026, lebih dari dua puluh satu ribu pohon kembali memenuhi bentang alam demi memperkuat sumber kehidupan dan keutuhan ruang jelajah satwa.

Selain membidik pemulihan langsung di alam (in-situ), mengembangkan pengelolaan ex-situ juga mulai ditingkatkan. Melalui izin resmi, Paseban Foundation melakukan penangkaran burung dan mamalia tertentu secara non-komersial. Upaya ini telah membuahkan hasil, seperti kelahiran anak rusa yang kelak akan dikembalikan ke alam liar untuk memperkuat jalinan rantai makanan dan interaksi ekologis di Megamendung.

Namun, proses reintroduksi hewan tidak bisa dilakukan sembarangan. Banyak tahapan yang harus dilalui: mulai dari rehabilitasi, pengujian kemampuan bertahan, evaluasi lingkungan, hingga pemantauan setelah pelepasliaran demi memastikan tidak ada gangguan ekologis yang merugikan populasi atau lingkungan sekitar.

Andy Utama, pendiri Paseban Foundation, menegaskan bahwa upaya konservasi di kawasan ini menuntut komitmen berjangka sangat panjang, tak hanya satu atau dua generasi. Hal inilah yang kemudian melahirkan visi Megamendung Century Initiative, yakni mendorong pemulihan kapasitas ekologis lanskap sehingga mendekati kondisi aslinya seratus hingga dua ratus tahun lalu—namun tentu dengan adaptasi terhadap realitas masa kini.

Tekad utama dari inisiatif ini adalah mengembalikan daya tahan, keutuhan rantai makanan, stabilitas hidrologi, dan relasi harmonis antara manusia dan alam sebagaimana mestinya. Andy menambahkan bahwa pekerjaan konservasi adalah warisan lintas generasi yang harus terus hidup dari satu tangan ke tangan berikutnya. Menurutnya, siapa pun yang peduli pada masa depan lingkungan, harus memiliki stamina dan kesabaran dalam menjaga kelangsungan upaya konservasi tersebut.

Sumber: 5 Primata Jawa Bertahan Di Megamendung, Paseban Foundation Dorong Pemulihan Ekosistem
Sumber: Kerap Terdesak Pemukiman, Lima Primata Jawa Ditemukan Hidup Bersama Di Alam Megamendung Bogor