Paseban Foundation Perkuat Peran sebagai Penghubung Berbagai Inisiatif Konservasi

by -97 Views

Semangat kolaborasi lintas sektor terus dikedepankan oleh Paseban Foundation sebagai upaya nyata menjawab tantangan konservasi yang semakin kompleks di Indonesia. Dalam peringatan dua tahun berdiri serta Annual Dinner yang diadakan bertepatan dengan Hari Konservasi Alam Nasional 2026, Paseban Foundation hadir sebagai jembatan yang menghubungkan praktik konservasi lapangan dengan pemanfaatan pengetahuan untuk masa depan.

Kegiatan difokuskan pada tema “Partnership in Cultivating and Stewarding the Biosphere Reserve” yang mempertemukan pemerintah, lembaga internasional, sektor swasta, akademisi, organisasi lingkungan, masyarakat, dan generasi muda—menyatukan visi dan aksi lintas bidang demi kelangsungan Cagar Biosfer Cibodas, khususnya bentang alam Megamendung.

Kesadaran pentingnya kerja sama tercermin dari kehadiran banyak pihak seperti Kementerian Kehutanan, Komunikasi dan Digital, mitra asing, organisasi internasional seperti FAO, UNESCO, UNDP, hingga representasi dari parlemen, dunia usaha, filantropi, tokoh publik dan pelajar. Masing-masing membawa energi dan perspektif berbeda untuk mendorong pengelolaan lingkungan berkelanjutan.

Andy Utama, pendiri dan pembina Paseban Foundation, menegaskan, lembaganya dibuat bukan semata-mata sebagai pusat aktivitas konservasi, melainkan penghubung, tempat seluruh pemangku kepentingan dapat berbagi peran, sumber daya, dan keahlian. Baginya, konservasi adalah kerja kolektif berjangka panjang yang perlu diwariskan dan diregenerasikan agar tidak berhenti hanya pada satu generasi.

Ia menyatakan bahwa pekerjaan konservasi memerlukan kesinambungan secara lintas waktu dan pelibatan generasi baru. Setiap penggiat kelak akan memberi tongkat estafet kepada penerus demi menjamin kelestarian habitat dan keanekaragaman hayati. Ruang kolaborasi inilah yang dijaga Paseban Foundation dengan membuka akses bagi semua pihak guna bersama-sama menjaga ekosistem Megamendung.

Di lapangan, fondasi kolaborasi ini diperkuat dengan aksi nyata seperti penyelamatan dan restorasi habitat, penanaman puluhan ribu pohon lokal, pengelolaan penangkaran satwa nonkomersial, serta pemantauan biodiversitas menggunakan survei dan kamera jebak. Data hasil konservasi itu kemudian dikelola menjadi pengetahuan strategis yang digunakan Paseban Foundation untuk riset, pendidikan, advokasi, pengambilan keputusan, hingga publikasi.

Wahdi Azmi selaku Executive Director mengungkapkan, kehadiran lima spesies primata Jawa dalam area Megamendung yang relatif kecil merupakan salah satu buah kerja pemantauan intensif organisasinya. Wilayah Megamendung yang bersaing dengan tekanan aktivitas manusia ternyata masih menyimpan kaya kehidupan, mulai dari macan tutul, elang Jawa, hingga flora khas pegunungan.

Aktivitas pengolahan dan penyebarluasan pengetahuan menjadi bagian kunci strategi konservasi Paseban Foundation. Melalui peluncuran buku-buku seperti “Lens Chronicle 1: Biodiversity of Paseban” serta “Kepemimpinan Bentang Alam,” dan dokumenter “The Silent Resilience,” mereka membangun ekosistem pengetahuan lintas media. Berharap hasil temuan lapangan tidak hanya bermanfaat internal tapi juga membuka kesadaran masyarakat luas serta memperkokoh jejaring kolaboratif.

Peranan generasi muda dianggap sentral dalam kesinambungan misi konservasi ini. Oleh karena itu, penguatan kapasitas, pelibatan dalam penelitian dan advokasi pun menjadi prioritas. Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menyoroti bahwa data dan hasil lapangan perlu diolah serta dipublikasikan agar menjadi bagian penting dari wacana publik, sekaligus memperbesar dampak upaya pelestarian ekosistem melalui sinergi kekuatan lintas aktor.

Sementara itu, Indra Exploitasia dari Kementerian Kehutanan menegaskan bahwa regenerasi pegiat konservasi mutlak diperlukan agar tugas dan harapan terhadap habitat tidak terhenti dengan berjalannya waktu. Ia mengingatkan, generasi senior kian menua, sehingga kebutuhan terhadap penerus dan pemimpin konservasi masa depan sangat krusial untuk keberlangsungan aksi nyata di alam.

Wiratno, selaku penasihat Paseban Foundation, mengingatkan bahwa pengelolaan lanskap dan ekosistem tidak bisa terikat oleh batas administratif institusi. Hutan, air, satwa liar hingga manusia berada dalam satu sistem yang menuntut kepemimpinan kolaboratif. Menyatukan berbagai kepentingan, kewenangan, dan sumber daya adalah kunci utama mengelola satu ekosistem secara komprehensif dan berkelanjutan.

Paseban Foundation terus berupaya memperkuat fondasi kelembagaan berbasis kemitraan, praktik lapangan, dan manajemen pengetahuan guna membangun masa depan konservasi Megamendung yang inklusif. Seluruh inisiatif tersebut dilandasi tujuan agar kerja konservasi dapat berumur panjang melalui kolaborasi berkesinambungan, regenarsi pemimpin, serta penyaluran wawasan kepada masyarakat, sehingga kelestarian tetap terjaga lintas generasi.

Sumber: 21.831 Pohon Ditanam Di Megamendung, Paseban Foundation Siapkan Konservasi Hingga Generasi Berikutnya
Sumber: 21.831 Pohon Ditanam, Upaya Menjaga Biodiversitas Megamendung Terus Berlanjut